Sabtu, 25 Juni 2011

Pesawat Haji Sering Telat, Usul ONH Naik

 


JAKARTA - Tingkat ketepatan keberangkatan dan kepulangan pesawat haji pada tahun lalu masih memprihatinkan. Dari catatan Kementerian Perhubungan (Kemenhub), terjadi keterlambatan keberangkatan dan kepulangan sebanyak 345 kali.

Fakta tersebut terungkap saat rapat kerja antara Menteri Perhubungan (Menhub) Fredy Numbery dan Komisi VIII DPR di Gedung DPR, Kamis (23/6). Fredy mengatakan, bahwa phase pertama keberangkatan angkutan haji, maskapai penerbangan Garuda Indonesia, memberangkatkan sebanyak 119.912 jamaah dengan 308 kelompok terbang. "Terjadi 22 kali keterlambatan. Tujuh kali karena alasan teknis, dan 15 kali karena alasan operasional," ungkap Fredy.

Sedangkan maskapai Saudi Arabian Airlines (SAA), kata dia, memberangkatkan 79.668 jamaah dengan 184 kloter. Terjadi keterlambatan 33 kali, enam di antaranya karena alasan teknis dan 27 kali alasan operasional. Total jamaah yang diberangkatkan dengan kedua maskapai tersebut sebanyak 198.668 terbagi di 492 kloter.

Fredy menjelaskan, pada phase II atau kepulangan jamaah haji, Garuda mengangkut sebanyak 118.690 jamaah yang terbagi di 310 kloter. Terjadi 200 kali keterlambatan. Kejadian itu dipicu 12 kali karena alasan teknis dan 188 kali karena alasan operasional.

Sementara, Saudi Arabian mengangkut 79.481 jamaah dibagi menjadi 494 kloter. Terjadi 90 kali keterlambatan. Total jamaah yang yang diangkut untuk kepulangan adalah 198.171 terbagi 494 kloter dan keterlambatan sebanyak 290 kali. Fredy mengatakan, kendala selama masa pemberangkatan karena kepadatan di Bandara King Abdul Aziz, Jeddah, dan Bandara Prince Mohammad bin Abdul Aziz, Madinah. "Ini memengaruhi slot penerbangan haji dari Indonesia," terangnya.

Disebutkan Fredy, masalah teknis dan operasional dari maskapai penerbangan, dan bencana alam meletusnya gunung merapi juga mengganggu pelaksanaan angkutan haji embarkasi Solo. "Sehingga dialihkan ke embarkasi Surabaya," kata Fredy.

Untuk pemulangan, lanjut Fredy, kendalanya adalah kepadatan di Bandara King Abdul Aziz, Jeddah, dan Bandara Prince Mohammad bin Abdul Aziz karena pemulangan jamaah haji yang dilakukan secara bersamaan. Fasilitas bandara yang terbatas, masalah teknis dan operasional maskapai penerbangan juga menjadi kendala. "Adanya penambahan kuota haji dan penerbangan hampir di seluruh negara, serta pemeriksaan yang ketat di bandara dan kurang disiplin jamaah haji yang sering membawa tentengan yang berlebihan dan barang berbahaya ke bagasi kabin," ungkapnya.

Meski ratusan kali terlambat, Fredy tetap mengusulkan kenaikan tarif angkutan haji dalam Biaya Penyelenggaraan Ibadah Haji (BPIH) alias ONH pada musim haji 2011. Berdasar hitungan Ditjen Perhubungan Udara Kemenhub, biaya angkutan haji rata-rata sebesar USD1.672. Asumsi tersebut disebabkan kenaikan harga avtur yang digunakan sebesar USD 0,65. "Usulan Ditjen Perhubungan Udara dengan keuntungan 10 persen adalah sebesar USD 1.839," kata Fredy.

Berdasar data Kemenhub, pada 2010, biaya dan tarif angkutan haji adalah sebesar USD1.733. Jumlah tersebut lebih kecil dibanding tahun 2009 sebesar USD1.766. Pada 2008, sebesar USD1.893 dan tahun 2007 yakni senilai USD1.408. Tahun ini ada 11 embarkasi haji yang meliputi Banda Aceh, Medan, Batam, Padang, Palembang, Jakarta, Solo, Surabaya, Banjarmasin, Balikpapan dan Makassar.

Diasumsikan, untuk embarkasi Banda Aceh sebanyak 3.984, Medan 8.234, Batam 9.877, Padang 7.454, Palembang 7.368,  Jakarta 60.197, Solo 33.454, Surabaya 40.398, Banjarmasin 4.969, Balikpapan 5.342 dan Makassar 14.978. "Sehingga totalnya 196.345," lanjut Fredy.

Dia menjelaskan, rencana penggunaan pesawat udara pada penyelenggaraan haji tahun 2011 disesuaikan dengan jumlah kelompok terbang dan kapasitas bandara. "Tipe pesawatnya,  B747-400, B767-300 ER, B777, A330 dan A340. Pesawat yang dioperasikan minimal produksi tahun 1995 ke atas, kecuali pesawat tipe Boeing 747 minimal tahun 1990," jelasnya.(boy/jpnn/agm)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...